Persiapan Tim Robotik Polsri Menuju Kontes Robot Indonesia (KRI)

Kontes Robot Indonesia (KRI) adalah kegiatan kompetisi rancang bangun dan rekayasa dalam bidang robotika.  KRI 2020 diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.  KRI 2020 ini memasuki tahun ke-18 sejak pertama kali diadakan pada tahun 2003 di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu.

Ditengah wabah Covid-19 yang telah melanda diseluruh dunia termasuk di Indonesia, membuat kegiatan ini terkena dampaknya. Sehingga, penyelenggaraan Kontes Robot Indonesia 2020 tetap dilaksanakan dan disesuaikan kembali dengan aturan kontes sesuai kondisi pandemi Covid-19. Kontes yang semestinya dilakukan secara offline berubah menjadi kontes secara daring (online).

Adapun jumlah divisi yang akan dilombakan pada tahun ini yaitu 5 divisi, antara lain Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia(KRSBI) Humanoid, Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) dan Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI). Selain itu, terdapat divisi yang tidak diselenggarakan pada tahun ini, yaitu Divisi Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) dan Indonesian Symposium on Robotic, Systems dan Control (ISRSC) tidak diselenggarakan.

Tim robotic Polsri sendiri hanya mengikuti 3 divisi kontes, yaitu Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda dan Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI). Sedangkan, divisi yang tidak di ikuti tahun ini adalah Divisi Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) dan Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI).

Tema kontes yang diselenggarakan berbeda setiap divisinya. Pada divisi KRAI banyak terjadi perubahan tema setiap tahunnya. Sedangkan, divisi KRSBI dan KRPAI tidak banyak terjadi perubahan tema. Pada tahun ini KRPAI mengangkat tema penyemprotan disinfektan.

“ Ada beberapa perubahan tema dari setiap divisi, seperti divisi KRAI banyak terjadi perubahan tema setiap tahunnya, divisi KRSBI tidak terlalu banyak perubahan mungkin hanya perubahan pada strategimya dan KRPAI sedikit terjadi perubahan. Tahun kemarin fokus terhadap pemadaman api sedangkan tahun ini fokus ke penyemprotan disinfektan”,Ujar Muhammad Faris Dafa, perserta lomba.

Persiapan yang matang adalah hal yang penting bagi tim robotic Polsri dalam mengikuti kontes ini. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam membuat robot diperlukan reset dan melakukan eksperimen yang lakukan berulang kali. Selain itu, persiapan yang pasti dilakukan yaitu dari sisi hardware dan software. Karena dalam robot terdapat tiga komponen utama yang harus diperhatikan, yaitu hardware, software dan brainware (programernya).

“ yang pasti kita lakukan adalah dari sisi hardware maupun software. Karena ada tiga komponen utama robot, yaitu hardware, software dan brainware. Hardware biasanya hampir 70% sampai 80% komponen-komponen yang lama dapat dikaryakan kembali. Jadi, kita tidak tidak terlalu jauh, kecuali, ada beberapa bagian yang rusak, harus sesuaikan atau karena memang dulunya berubah. Untuk robot baru, yang memang harus kita siapkan adalah software. Tetapi, permasalahan yang sebenarnya yaitu pengembangan algoritma karena di sini harus ada kecerdasan dari si manusianya yang buat program”, ujar Bapak Sopian Soim, S.T., M.T. selaku pembimbing tim robotic Polsri.

Tim robotic Polsri sendiri sebelumnya sudah tiga kali menjuarai Kontes Robot Indonesia (KRI). Akan tetapi, hal ini tidak membuat tim robot merasa puas. Mereka selalu berusaha untuk mempertahankan prestasi yang telah mereka raih. Tim ini juga menjadikan pesaing mereka sebagai acuan dalam menciptakan robot yang lebih baik lagi.

” untuk mempertahankan juara sih sebenarnya lumayan sulit, karena tema yang berubah tahun ini. Jadi, yang pertama usaha dimaksimalkan terlebih dahulu, lalu melihat pesaing-pesaing yang lain agar bisa jadi cerminan untuk dikoreksi pada robot sendiri”, ujar Sedri Muhammad Iqbal, perserta lomba.

Selain persiapan yang matang dilakukan, terdapat pula kendala yang dialami. Bapak Sopian Soim, S.T., M.T. selaku pembimbing tim robotic Polsri mengatakan bahwa permasalahan yang sering hadapi yaitu pendanaan. Hal ini karena sering terjadi keterlambatan lembaga dalam masalah keuangan. Permasalahan kedua yaitu kurangnya minat mahasiswa sendiri dalam robotic. Sehingga, Bapak Sopian sendiri memiliki harapan agar semakin banyak yang menyukai robot yslang berasal dari hati dan hobinya. Disamping itu juga, diharapkan tim robotic dapat mempunyai tempat. Karena selama ini apabila terdapat agenda-agenda penting hanya dapat menggunakan ruang fasilitas umum Polsri yang di rasa kurang aman untuk menempatkan alat-alat robotika.

“ Untuk harapan sih sebenarnya pada tahun ini tetap mempertahankan juara seperti tahun sebelumnya. Untuk seluruh divisi pun kalau bisa masuk ke tahap nasional dan kalaupun memang tidak bisa setidaknya tahun ini ada perkembangan robot yang dapat diteruskan kepada anggota-anggota baru”, ujar Muhammad Faris Dafa dan Sedri Muhammad Iqbal.

Editor : DO

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *