Nuzululquran ditengah Pandemi Covid-19

Nuzululquran atau Nuzul Alquran yang secara harfiah berarti turunnya Al-Qur’an (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting diturunkan “Al-Qur’an” secara keseluruhan dari lauhulmahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia secara berangsur-angsur kepada Rasul melalui perantara malaikat Jibril-shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Ada banyak cara yang biasa dilakukan oleh umat muslim dalam memperingati peristiwa ini. Di Indonesia setiap tanggal 17 Ramadhan, biasanya dilakukan ceramah atau pengajian khusus bertemakan Nuzululquran. Ada beberapa pendapat yang menerangkan tentang turunnya Al-Qur’an dimana waktu  turunnya Al-Qur’an terjadi pada bulan Ramadan dan dilihat daripada 10 hari terakhir pada bulan ramadhan yaitu pada malam-malam Lailatulqadar. Menurut musnad Imam Ahmad, turunnya Al-Qur’an pada tanggal 24 Ramadan, tetapi masih ada perbedaan pendapat antara ulama. Namun, yang paling masyhur adalah tanggal 17 Ramadan.

Situasi Ramadhan tahun 2020 berbeda dibandingkan tahun sebelumnya atau sepanjang perjalanan Ramadhan yang dilalui umat Muslim. Di tengah situasi pandemi virus corona, masyarakat diimbau untuk melakukan seluruh kegiatan dari rumah dan mengisolasi diri di rumah  (stay at home), termasuk dalam melakukan ibadah.

Sebelumnya, Menteri Agama Fachrul Razi telah menandatangani Surat Edaran (SE) Nomor 6 Tahun 2020 Tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah. Surat Edaran tersebut berisi panduan beribadah yang sejalan dengan Syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19.

Kemenag juga meminta peringatan Nuzulul Qur’an ditiadakan, baik dalam bentuk tablig dengan menghadirkan penceramah dan massa dalam jumlah besar, termasuk di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala.

“Tidak melakukan iktikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan di masjid/musala,” bunyi surat edaran Kemenag tersebut.

Dalam menyikapi hal tersebut dianjurkan untuk mengisi malam Nuzulul Quran dengan membaca Alquran juga disampaikan tokoh NU Sumedang, Jawa Barat, H Sa’dullah. Dikutip dari NU Online, kiai yang hafal Al-Qur’an dan lulusan PTIQ, Jakarta tersebut juga menjelaskan cara-cara yang baik mengisi malam Nuzulul Qur’an.

 

“Cara-cara yang baik untuk mengisi malam Nuzulul Qur’an yaitu, pertama istiqomah membaca Al-Qur’an. Minimal harus khatam satu kali selama bulan ramadlan. Kedua, harus memperbanyak i’tikaf, selama i’tikaf bacalah Al-Qur’an atau dzikir lainnya. Dan yang ketiga, perbanyaklah shalat malam dan doa,” jelasnya.

 

Namun, disituasi yang tidak memungkinkan selama pandemic covid-19 ini, ada satu mazhab Hanafi yang memperbolehkan iktikaf dilakukan di dalam rumah atau disebut dengan masjid rumah (masjid al-bait). Sebab, ruangan di dalam rumah yang dijadikan tempat ibadah terdapat mihrab atau tempat pengimaman, bersih, dan wangi sebagaimana tempat ibadah pada umumnya.

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *