Sang Pejuang Kemerdekaan

Oleh    : Melly Windarti

Dua belas hari lalu sebelum kemerdekaan di bawah jajahan Jepang. Pada tanah lapang, tepat pada saat matahari terik. Kerumunan pemuda berbadan dekil, disiksa dalam sebuah agenda atas nama pemberontakan pribumi.

Nasib malang, belum tertuju siasat yang direncanakan sudah lebih dahulu terperangkap jerat. Salah seorang berkhianat demi sebungkus harapan bebas dari jejak penindasan. Namun sebaliknya, bukan imbalan malah terkutuk oleh kematian.

“Jangan ada pemberontakan atau kalian berakhir pada kuburan!” Teriak lantang seorang Jepang yang berseragam.

Seorang pemuda dengan wajah kumal, berbadan kerdil, berbau anyir dan masam. Mansyur namanya, berdiri pada barisan paling belakang. Kakinya terkoyak sampai bagian bawah lutut hingga menyebabkan jalannya tertatih-tatih. Sekali-kali dia meringis kesakitan, setiap itu juga pukulan keras menghantam badannya hingga tersungkur ke sudut lapangan.

Kawan-kawannya memandang iba tapi tak berkutik dari sederet penyiksaan yang dia terima. Napasnya tersendat-sendat, wajahnya juga berlumur darah. Mansyur diseret paksa kekita mereka digiring pada gerbong bermuatan sempit. Bau amis dan pesing menguar dari gerbong tua itu. Mansyur terkapar, terdesak sampai ke sudut ruang. Pandangannya memudar lalu tanpa tanda dan aba-aba dia pingsan.

***

Di perjalanan semua diam, hanya terdengar suara gemuruh dari kereta yang berjalan. Mansyur tersadar, lalu menguatkan diri dengan sejumlah hapalan surat-surat Al-Qur’an. Mulutnya terus berkomat-kamit hingga mencuri perhatian. Dengan napas yang terputus-putus, Mansyur memecah keheningan.

“Kawan, ini sudah jauh dari kamp tentara Jepang. Tidak ada penjagaan yang terlalu ketat lagi. Ini kesempatan.” Kata Mansyur.

“Cukup! Tak lihatkah? Seorang telah terbunuh dihadapan kita.” Jawab Rahmat, salah seorang yang punya tubuh paling gempal.

“Percuma, nanti juga kita akan mati pelan-pelan jika bertahan. Kau sendiri lihat bahwa mereka kejam.” Sambung Mansyur.

“Kereta ini pelan, kita akan melompat. Kita hanya akan terbentur, sedikit luka kecil.” Lanjut Mansyur kembali.

“Lukamu mengkhawatirkan kawan.” Jawab kawannya yang lain.

Mansyur tersenyum, kegembiraan tampak dipaksakan. Tindakan dimulai, satu-persatu melompat dan membiarkan kereta berlalu dalam kekosongan. Mereka berjalan menjauh dari sepanjang garis rel kereta untuk menghindar dari segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Mereka melintasi hutan, mengkonsumsi segala yang bisa dimakan untuk menangkal kelaparan. Mengendap-endap dalam ketakutan, lalu nampak dari kejauhan sebuah bangunan besar. Bangunan itu lenggang, tanpa pengawasan.

Perlahan mereka mendekati bangunan itu, hanya ada satu-dua tentara Jepang. Mudah untuk ditaklukkan. Layaknya seorang ahli mereka memukul, menerjang dan menyudutkan tentara-tentara kejam itu.

Pada ruang bangunan itu tampak puluhan senjata-senjata yang biasa mereka lihat digunakan oleh tentara Jepang untuk membunuh siapa saja yang melanggar aturan. Ada rasa ngeri, suasana angker senjata mengerikkan itu memberikan efek ketakutan pada Mansyur dan kawan-kawannya. Trauma yang mendalam penyebab utamanya, telah banyak yang meregang nyawa akibat benda itu.

Namun mereka kuat-kuatkan, karena benda seperti ini akan berguna di situasi-situasi yang dianggap genting. Maka mereka memilih untuk membawanya sebagai perbekalan, memikulnya di pundak masing-masing.

***

Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalanan yang mengarahkan mereka pada daerah perkotaan. Ketika sampai di pinggir perkotaan mereka berjumpa dengan sekumpulan warga pribumi yang gagah perkasa bersama senjata bambu runcing.

“Penjajahan yang kejam telah habis. Sekarang kita harus lepas, merdeka sebagai negara yang berdaulat. Kita lawan mereka!” Teriak seorang pribumi yang tubuhnya paling kekar.

Semuanya bersorak menyatakan kalimat-kalimat kemerdekaan. Informasi kalahnya Jepang terhadap Sekutu menambah pencerahan. Semangat berkobar, penjarahan senjata-senjata api dimulai tanpa menyakiti tentara Jepang. Namun mereka malah memilih mengakhiri dengan bunuh diri.

“Demi harga diri!” Teriak mereka ketika hendak membunuh diri.

Rasa jijik menjalar tapi mereka pura-pura mengabaikan tindakan bodoh dari tentara-tentara kejam itu. Mereka merampas segala macam bentuk senjata dari yang kecil hingga ukuran yang paling besar.

***

Hari yang kelam berlalu, mereka terdidik oleh kejamnya kehidupan. Hari ini, pada hari ke tujuh belas dari bulan yang kedelapan pada tahun empat puluh lima. Bait-bait proklamasi dikumandangkan oleh pemimpin pertama negara tumpah darah ini. Kalimat-kalimatnya menggema diudara, memberi kebahagiaan yang tak terkira setelah sekian lama hidup dalam kesengsaraan di bawah kaki-kaki penjajah.

Besok lusa, hari bersejarah ini akan dikenang sebagai awal kehidupan bangsa. Telah banyak yang berjuang dan menukar kemerdekaan dengan kematian. Mereka itu adalah pahlawan-pahlawan tangguh, termasuk Mansyur. Pemuda itu gagal bertahan, kakinya yang terluka infeksi dan menyebabkan dirinya kehilangan kesadaran. Dia telah gugur, satu jam sebelum kemerdekaan.

 

Biodata Penulis

Nama                        : Melly Windarti

Nim               : 0614 3090 0634

Jurusan          : DIII Bahasa Inggris

Kelas             : 1 BA

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *