MUKA DUA

Pahlawan adalah sosok yang rela berjuang demi kemakmuran bangsa. Cucuran keringat tak henti-hentinya mengalir namun tak mereka hiraukan. Semangat yang berkobar bagai api yang tak pernah padam. Sulut api dari yang kecil hingga meluas mampu dikalahkan oleh semangat mereka. Jiwa mereka bagaikan baja yang tak mampu ditembus benda biasa. Prinsip hidup untuk berjuang inilah yang perlu disorot. Sama halnya ketika kita mencari teman yang sebenarnya. Perlu ada perjuangan. Perlu ada pengorbanan seperti pahlawan Nusantara. Inilah kisah persahabatanku yang kuingat saat aku merenungkan sosok seorang pahlawan.

Saat itu Palembang sedang gencar-gencarnya dilingkupi kabut asap. Kepulan kapas tebal berkarbon dioksida itu seakan menjadi hirupan rutinitas masyarakat Palembang. Kebakaran hutan gambut yang sedang hangat dibicarakan ternyata menjadi biang di balik itu semua. Aku masih sayang pada paru-paruku. Tetapi, apa daya inilah beratnya cobaan alam yang diciptakan secara sengaja oleh mereka. Memang faktor alam juga ikut berperan. Tetapi justru manusia-manusia yang pada kodratnya menjadi khalifah di bumi malah ikut serta mencemari lingkungan ini.

Seperti biasa, menapakkan kakiku di jalan Palembang membuatku lelah. Sekolah yang jaraknya luar biasa jauh membuatku kalang kabut. Apalagi aku harus menembus dinding asap berkapasitas besar itu. Membawa masker kini menjadi kebiasaanku.

Panasnya menyusuri ibukota Sumatera Selatan membuatku dehidrasi. Air menjadi pikiran utamaku. Tetapi, tak ada setetes air pun di tasku. Aku khawatir tenggorokanku akan kering bak Gurun Great Sandy Simpson di Australia. There’s no another choice. Aku hanya bisa berjalan tanpa henti untuk sampai di sekolah. Ini hari pertamaku masuk ke SMA Nusantara. Aku tak ingin mengawali hari pertamaku dengan terlambat.

Aku sangat berharap kehidupan putih abu-abuku ditumbuhi oleh pelangi kebahagiaan. Aku ingin memiliki sahabat baru, tempatku mencurahkan isi hatiku. Tahun-tahun SMAku ingin kulalui dengan sistem jalan tol yang mulus tanpa hambatan. Wajar. Semua orang selalu merancang planning yang bagus. Tak ada satu pun manusia ingin merencanakan hal yang buruk baginya.

Di tengah-tengah keramaian, di perjalanan, aku bertemu seorang yang sebaya denganku. Sepertinya, dia juga punya tujuan yang sama sepertiku.

“Hai.”, sapanya kepadaku. Senyumnya luar biasa manis. Aku seakan makan permen karet satu lusin.

“Hai.”, sapaku juga.

“Kamu SMA Nusantara juga?”, tanyaku dengan mengernyitkan dahi. Aku berharap ia menjawab ya.

“Ya. Jadi kamu siswa SMA Nusantara?”

“Iya. Tapi aku baru masuk nih. Belum ada teman.”, jawabku sekaligus curhat.

“Wah, sama dong. Kita bisa kok temenan.”

“Serius kamu?”, tanyaku dengan semangat. Senangnya dapat berteman dengan orang cantik.

Kami berseteru bersama di dalam perjalanan ini, melawan arus Palembang, dan menghamtam kelelahan ini. Percakapan kami di awal ini hanya seputar sekolah baru, asal sekolah kami dulu, hobi kami, dan hal-hal lain yang sifatnya masih general. Ya, setidaknya hari ini aku punya keberuntungan dipertemukan dengan insan yang kelak menjadi sahabat baikku di sekolah. Aku sudah tak sabar mengisi lembaran baru diariku dengan lantunan namanya.

Desahan lembut suaranya memberi tahuku bahwa namanya adalah Sari. Sampai di SMA Nusantara, ternyata masih sepi. Baru segelintir orang saja yang datang. Kami langsung meluncur ke papan pengumuman yang memajang nama-nama siswa baru. Ternyata, aku dan Sari berada dalam kelas yang sama. What a good news! Akhirnya, harapanku terkabul. Semua akan dimulai hari ini dan orang pertama yang mengisi lembaran hidupku di tahun ajaran yang baru ini adalah Sari, gadis baik dengan senyumnya yang aduhai itu.

Belakangan ini, kuhabiskan waktu dengan Sari di sisiku. Kini, kurasakan kebahagiaan yang begitu dalam karena telah menemukan belahan hatiku, teman yang sebenarnya. Itulah Sari. Saat SMP, aku tak pernah menemukan teman yang sebenarnya, yang benar-benar mengasihiku karena menganggapku menjadi bagian dari hidupnya. Mereka hanya memanfaatkanku saja, dan pertemanan yang kujalin selalu out of date. Tetapi, kini bersahabat dengan Sari menjadi bagian dari kertas putih hidupku yang menyenangkan. Kertas putih yang semula kosong, kini dipenuhi dengan coretan-coretan kecilku bersama Sari.

Suatu hari, saat pelajaran Bahasa Indonesia, kami diintruksikan oleh guru untuk mengumpulkan pekerjaan rumah kami.

“Kumpulkan tugas kalian sekarang!”, ibu guru memerintahkan kami.

Seketika itu juga, bola mata guru itu melirik sana-sini pada lembar tugas kami. Ditelitinya tulisan hitam kami di lembar itu. Kemudian, tak tahu mengapa ibu guru itu memasang muka yang tak dapat kutafsirkan.

“Cindy!”

“Ya, Bu?”

“Kamu nyontek?”, tanyanya padaku.

“Nyontek? Tidak, Bu. Saya kerjakan sendiri di rumah.”, kataku penuh kejujuran.

“Ibu tidak mau tahu. Tugas kamu sama persis seperti tugas Sari. Berarti kalian berdua berkerja sama ya. Jadi, nilai kalian kosong untuk tugas ini.”

“Saya tidak kerja sama kok, Bu.”, untuk kesekian kalinya aku menegaskan bahwa aku benar-benar mengerjakan tugas itu dengan keringatku sendiri.

“Sudah. Ibu tidak mau dengar penjelasan kamu lagi. Saya kira kamu tidak akan pernah mencontek, tapi kali ini persepsi Ibu salah. Ternyata kamu bisa juga ya mencontek.”

“Tapi, Bu….”, kalimatku menggantung. Sakit sekali rasanya. Perih. Aku ingin pingsan saat itu juga. Aku tak pernah mencontek tapi entah mengapa dituduh mencontek itu sama seperti kita dituduh mencuri, padahal kita tidak mencuri.

Saat itu, Sari celingukan. Dia justru memasang ekspresi kaget yang seolah mengatakan “Kok bisa?”. Jujur, kami tak bekerja sama dalam menyelesaikan tugas itu. Aku super bad mood hari ini. Legenda dimana aku adalah satu-satunya murid yang tak pernah mencontek musnah sudah. Namaku seakan diblacklist. Aku juga tak tahu mengapa tugasku bisa sama persis seperti tugas Sari. Saat aku tanyakan padanya, dia malah bingung tujuh kayangan.

Dua hari berlalu. Aku tak pernah mempersoalkan lagi kejadian tuduhan itu. Memori tentang kejadian itu seakan sudah kudelete dari otakku. Hari ini aku sudah berjanji kepada Sari untuk membaca buku bersama di perpustakaan sekolah.

Di perpustakaan, aku menjelajahi rak demi rak untuk mencari buku yang menarik untuk dibaca. Akhirnya, aku mendapat buku dengan judul “10 Tips Meraih Impian” yang tertulis besar-besar di covernya. Sedangkan Sari, sudah terlebih dahulu menemukan buku bacaannya. Ia duduk tepat di depan meja dimana kami meletakkan tas-tas kami.

Selama satu jam kami tenggelam dalam kesunyian. Kami fokus pada buku bacaan kami masing-masing. Aku membaca bukuku sampai halaman terakhir. Setelah membacanya, aku ingin menerapkannya juga dalam hidupku. Salah satu tips yang ada pada buku itu adalah carilah teman yang sebenarnya. Selektiflah memilih teman, karena ada saja teman yang bermuka dua. Pilih teman yang menjadi penyokong dan pendukungmu. Kurenungkan kata-kata itu agar aku tak terjebak pada teman yang seperti itu.

Akhirnya, setelah membaca buku, kami pulang. Sesampainya di rumah, aku menggeledah tasku. Takut ada sesuatu yang tertinggal. Saat kulihat dompetku, isinya sudah ludes semua. Aku syok berat karena dari tadi pagi aku tidak memakai uang sesen pun. Jadi, aku sms Sari. Aku tidak mau menuduh Sari, karena belum tentu dia pelakunya.

“Sar, kamu liat nggak ada yang geledah tasku?”

“Nggak ada kok. Emang kenapa ya?”

“Anu.. dompetku isinya ilang semua.”

“Duh kok bisa? Besok deh ya kita cari sama-sama. Jangan sedih.”

“Iya. Thanks ya, Sar. Kamu emang baik.”

Sesaat itu juga kuusaikan berbalas pesan elektronik itu. Lalu, kurebahkan tubuh yang letih ini di atas tempat tidur dan merefleksikan pikiran hingga tertidur lelap.

Esoknya, aku ke kantin sendirian karena Sari pamit padaku ingin menemui temannya di kelas sebelah. Setelah makan di kantin, aku melewati kelas teman Sari itu. Aku melihat Sari sedang mengobrol dengan temannya yang bernama Lisa. Tanpa sengaja, aku mendengar percakapan mereka karena volume suara mereka yang agak kencang dan mereka juga menyebut-nyebut namaku.

“Sar, lo deket banget ya sama Cindy? Envy gue.”

“Nggak juga kali. Gue tuh ya cuma manfaatin dia doang.”

“Hah? Maksud lo?”

“Iya. Dia itu lugu banget. Jijik gue liatnya.”

“Jadi, selama ini lo..”

“Iya. Gue deket sama dia karna manfaatin dia doang. Tau nggak ya waktu itu kan ada tugas Bahasa Indonesia, gue ambil deh buku dia dari tasnya. Gue contek sama persis. Ya, dianya nggak tahu. Jadi, dia kena marah guru. Kasihan banget ya. Terus ya, kemarin kan gue sama dia ke perpus. Gue sih yang ngajak. Sebenarnya sih gue cuma modus ngajak dia ke perpus biar gue bisa ngedeketin tasnya. Dia kan tajir otomatis dompetnya tebel, kan. Gue ambil aja tuh duit.”, katanya dengan bangga.

“Gila lo tega banget.”

Mendengar itu, saat itu juga aku menangis dengan derasnya. Teman yang telah kuanggap bagian dari hidupku, kini mendustai persahabatan kami. Remuk hatiku mendengar itu semua. Andai aku bisa mengulang waktu. Andai aku tahu dari awal bahwa dia bermuka dua. Ah, sudahlah. Memang demikian nasibku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kurasa detik ini juga persahabatan yang sudah kurajut selama ini kandas begitu saja.

Semenjak kejadian itu, aku tak pernah dekat dengan Sari lagi. Kuputuskan tali persahabatan kami secara langsung berhadapan dengan dia. Dia juga terlihat fine saja saat aku berkata “Aku nggak cocok sahabatan sama kamu. Kamu cuma mau manfaatin aku dan aku butuh sahabat yang benar-benar mau jadi sahabat aku.”

Tahun ajaran baru pun dimulai juga pada akhirnya. Untungnya, aku tidak sekelas lagi dengan Sari. Itu hal yang melegakan bagiku. Aku akan membuka hatiku pada orang lain yang benar-benar tulus sebagai seorang sahabat. Ternyata, sahabat lamaku ada juga yang masuk ke SMA Nusantara. Nita namanya. Kini, kami teman sekelas lagi. Dia benar-benar sahabatku yang paling baik sejak SD. Hari-hari ke depannya akan kuisi tintaku penuh-penuh agar dapat menulis kisahku bersama Nita di kelas kami yang baru. Pada intinya, aku ingin melupakan ratu bermuka dua itu. Aku hanya ingin ketulusan dari seorang sahabat dan kurasa Nitalah orangnya.

“Nita, jangan khianati aku ya seperti Sari. Aku benar-benar ingin jadi sahabat kamu, yang selalu di sisi kamu setiap kamu perlu. Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama. Aku harap kamu mau jadi penyokongku dan aku akan menjadi penyokongmu. Kita akan sama-sama memenuhi salah satu tips meraih impian itu, yaitu menemukan teman yang sebenarnya.”

Kini kabut asap hilang dari peredaran. Palembang tidak ditenggelamkan oleh kabut lagi. Inilah akhir persahabatanku dengan Sari. Ternyata persahabatan kami hanya sebatas kabut. Ketika kabut berakhir, maka berakhir pula persahabatan kami. Namun, kuharap persahabatanku dengan Nita tak seperti itu. Aku ingin persahaban kami seperti jalan yang tak berujung, yang berarti selamanya. Kini aku sadari bahwa di dalam mencari teman yang sebenarnya perlu ada perjuangan dan pengorbanan sama halnya seperti pahlawan. Kita harus mengerahkan upaya untuk meraih apa yang kita inginkan. Sama halnya pahlawan yang berjuang untuk meraih kemenangan bangsa.

Dari dikucilkan pada masa SMP, dikhianati sahabat saat SMA, kini kusadari bahwa semuanya tak semulus yang kita pikirkan. Sama halnya pahlawan yang sudah menyusun strategi. Sebaik apapun strategi dan taktik yang telah disusun, masih ada celah untuk kegagalan. Hal yang terpenting adalah aku akan berjuang terus untuk mempertahankan hubungan persahabatanku dengan Nita. Aku akan tanamkan prinsip perjuangan pahlawan di dalam kisah persahabatanku ke depannya. Apapun yang terjadi.

Karya: Cindy Larasati Sihotang

Kelas: 1AC

Jurusan: Akuntansi

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *