AKHIR SEBUAH PENANTIAN

Sastra : “YUDHA WIRA PRATAMA”

KELAS           : 3 ELB

JURUSAN      : TEKNIK ELEKTRO DIV

Pagi itu ,  Awan hitam menutupi mentari pagi, meneteskan butiran air, menggenangi tanah dan lumpur, mengubah jalan menjadi lautan air.

Dengan segera ku beranjak dari peristirahatan ku mengangkat panggilan telepon yang berdering.

“Halo”, Riza menjawab dengan rasa kantuknya. Seketika itu jantung Riza tak berdetak, nadi tak mengalirkan darah, nafasnya berhenti menghirup udara,   tulang yang keras terasa rapuh, bagai tersambar petir mendengarkan itu.

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Seperti biasanya, pagi itu Riza duduk di halte menanti seseorang .

“Hai Riza, udah lama kamu nunggu aku”, sapa Dova dengan senyumnya yang manis.

“Nggak kok, sekitar 10 menit yang lalu”, jawabku dengan balas senyum.

“Yuk kita berangkat, nanti keburu telat”, ajak Dova.

Mereka bergandeng tangan dalam dinginnya kasih cinta remaja. Didepan kelas mereka berpisah masuk ke kelas mereka.

“Sampai nanti Dova, aku tunggu kamu di taman sepulang sekolah ini”, kata Riza

“Oke Riza, sampai nanti”, jawabnya.

Taman yang dipenuhi bunga mawar, ditemani kupu-kupu yang bertebangan mencari nektar di bunga-bunga segar. Dipojok taman Riza menanti Dova penuh rasa sabar, yang dari tadi ia nanti. Riza berdiri menyaut panggilan Dova.

“Rizaaaa……..”, dengan melambaikan tangan kearah Riza.

“Aku tunggu kamu dari tadi”, dengan rasa menahan kesal.

“Maaf Riza, aku tadi disuruh piket dulu, jadi lama deh. Kamu gak marahkan”, tanya Dova dengan muka melasnya.

Riza diam mematung tanpa lagi tanya dari Dova. Diam mereka tanpa bicara mengukung kata, melumpuh lidah, dalam mata bertatap muka.

Tentu Dova bertanya dalam benak yang bingung “ada apa ini tak seperti biasanya?”.

Riza membuka pembicaraan setelah sekian lama membisu. Dengan mengambil nafas dalam. “Dova, aku harus bicara!”, menatap Dova.

“Ya, bicaralah Riza, memangnya ada apa”, tutur Dova dengan mata menciut tajam.

“Dova, kita telah lama mengarungi keindahan cinta tanpa kemarahan, amarah, saling menghargai, saling mengerti, namun kini,……” menunduk rapuh,    kepasrahan terpasang dimukanya.

“Namun apa Riza,….namun apa ?” Dengan rasa penasaran bertanya lirih.

Secara perlahan Riza berkata. “Orang tuaku menelpon tadi pagi. Aku mendapat amanah dari orang tuaku, mereka menyuruh ku pindah ke L.A , mereka menyuruhku meneruskan sekolah disana, bulan ini”.

“Jadi, bagaimana dengan hubungan kita, Riza ?”, perlahan air mata Dova menetes.

“Untuk saat ini kita masih ada ikatan, dan aku berjanji sepulangnya diriku dari L.A aku pasti menemuimu dan kita menikah”

“Tapi Riza, ….. Aku tak bisa, aku tak bisa hidup tanpa kamu. Aku sangat mencintaimu”, menangis tersedu.

“Memang berat semua ini diterima, aku juga tak bisa pergi meninggalkanmu, tapi harus aku jalankan amanah orang tuaku. Kamu harus yakin kita pasti bisa bersama kembali seperti saat ini. Aku janji kan menemuimu disini, ditempat ini, tempat kita melukiskan kenangan cinta sejati kita”, meyakinkan Dova.

“Kamu janji kan kembali ?”, tegas Dova.

“Aku janji”, balas Riza.

“Baik aku kan menunggu cinta kita, meski lama kan ku nanti”. Pasrah mendengarnya

“Ini Dova, simbol cinta kita yang kan selalu abadi dulu, kini dan nanti”. Riza mengenakan kalung itu di leher Dova.

“Dan ini simbol kesetiaan kita.” Dan Dova mengenakan kalung itu di leher Riza.

“Aku harap ini bukan yang trakhir kita bersama disini”, ucap Riza dengan pelukan hangat pada Dova.

“Ya. Aku harap ini bukan yang trakhir”, balas Dova.

Surya menutup siang berganti senja, menemani kesedihan kekasih, tanpa memutuskan asa,  Didalam ketenangan dan penantian di kala nanti ……..

**********************************************************

4 tahun terlewati begitu lama.

Senja yang dulu tersenyum menemani kekasih berpadu kasih kini pudar terkikis keraguan, ketidakberdayaan, kesetiaan yang tak kunjung datang.

“Dimana kau Riza, aku slalu menantimu di setiap memori kenangan, sudah 4 tahun ku nanti tanpa memutus asa, tiada henti aku memohon agar kau datang meski sakit dan derita ini ku tahan, aku takut kita tak bisa berjumpa dan tak bisa bersama kembali”.

Teriak Dova berkilau air mata menggores pipi bertetes membahasi keringnya hati yang hampa di kursi roda sendiri di taman.

Mendung  menjadi teman setianya, hujan turun membasahi cinta tanpa melunturkan kesetiaan, dan kinilah kesetiaan itu datang menutupi kekosongan hati. Namun kala itulah, kala kesetiaan itu datang dan kala itu pulalah kesetiaan itu berpisah kembali.

“Dovaaaa”, teriak Riza memanggil kekasih yang telah 4 tahun tak berjumpa

“Riza, …..”, tercengang melihat Riza.

Riza menghampiri Dova dengan penuh kerinduan.

“Riza ini kamu, ……..”, tanya Dova dengan raut muka yang tak percaya.

“Iya, ini aku Riza, kekasihmu dulu. Kini aku telah kembali untuk menepati janji kita.”ucap Riza.

“Tlah lama sekali aku menantimu, tak terbendung lagi rindu ini …”, seru Dova dengan memeluk Riza.

“Maafkan aku, yang tlah membuat kau lama menanti. Ada apa denganmu, mengapa kau …….”. Melihat dengan heran.

“Riza, bagaimana dengan kau, bagaimana dengan sekolahmu di L.A”, mengalihkan pertanyaan Riza.

“Alhamdulillah aku telah mendapat gelar S2, dan mendapat beasiswa S3”, dengan bangganya ia menjawab.

“Syukurlah, pengorbanan mu tidak sia-sia”, tersenyum senang.

“Dova, aku ingin membicarakan janji kita yang dulu, aku kini telah kembali, jadi aku ingin melamarmu untuk………”, tanya Riza

“Tidak Riza. Aku tidak bisa. ” memalingkan muka

“Mengapa ?”, tegas Riza

“Kau lihat diriku. Lihat diriku Riza. Aku menderita Decriyiton Liveris, penyakit baru yang menyerang sel-sel hati. Mungkin usiaku takkan lama.”Jelas Dova

“Maafkan aku Dova, aku tak seharusnya meninggalkanmu, hingga dirimu seperti ini.”menangis dipelukan Dova.

“Aku ikhlas Riza. Aku telah bahagia kau bisa menepati janji untuk menemuiku kembali. Kini aku hanya bisa menikmati waktu yang tersisa dihidupku, mengenang

kala dulu”. Ucap Dova

2 bulan mereka menjalin hubungan kembali. Dengan setia Riza selalu menemani hari-hari terakhir Dova, menikmati setiap keagungan-Nya. Hingga takdir datang menjemput jiwa yang tenang, jiwa yang dulu selalu merindukan si Dia membawa kenangan ke surga meninggalkan janji setia. Inilah akhir dari penantian kekasih yang 4 tahun ditinggalkan,AKHIR  SEBUAH  PENANTIAN

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *